Sabtu lalu saya berhenti di luar pintu masuk Petronas menunggu anak buah masuk membeli "top up" handphone. Ketika menggerakkan kereta untuk beredar, tiba-tiba terdengar bunyi yang agak kuat. Saya terlanggar sebuah motorsikal yang diparkir betul-betul di bucu hadapan kereta saya. Memang saya tidak nampak langsung motor tersebut. Saya akui memang salah saya. Saya mengundurkan kereta untuk parkir dan mencari pemilik motor tersebut. Belum sempat saya keluar dari kereta muncul seorang wanita dalam usia 30an bertudung keluar mengangkat motorsikalnya. Saya pun mengangkat tangan dan mengucapkan maaf. Dia hanya merenung kami tajam.
Memikirkan dia tidak mendengar permintaan maaf saya, saya memandu kereta ke depan sedikit dan membuka cermin sambil mengucapkan maaf berkali-kali dan memberitahu kepadanya saya tidak sengaja. Dia hanya memandang kami dengan renungan tajam ke atas-ke bawah dengan ekspesi penuh kebencian tanpa sepatah kata mahupun menganggukkan kepala. Saya pun berlalu pergi sambil memandang ke cermin sisi dan pasti motosikalnya tidak ada sedikit calarpun.
Dalam hati saya berkata mengapa harus marah sebegitu sekali... memang saya salah. Tetapi dia juga salah kerana parkir di tempat yg tidak sepatutnya sedangkan tempat untuk parkir motor hanya di depan dia dan kosong pula. Lagi pula kereta saya yang sedikit calar sedangkan motornya tidak apa-apa. Walhal boleh saja kalau saya beredar sebelum dia keluar tanpa berusaha untuk memohon maaf. Saya pasti dia juga insan biasa yang pernah berbuat silap.
Benarlah kata seorang teman -- "Budi Bahasa dan Ungkapan Maaf sudah semakin kurang diucapkan sehinggakan kita sudah tidak tahu bagaimana untuk bertindakbalas apabila orang meminta maaf ataupun berbudi bahasa kepada kita". Pesan saya kepada anak-anak buah yang berada di dalam kereta melihat kejadian itu..."Kalau orang meminta maaf, maafkanlah dia bukan untuk org yg bersalah itu tetapi untuk diri kita supaya tidak menjadi Insan Pemarah dan Berdendam".
No comments:
Post a Comment